[Repost] Kritik Film PK Terhadap Agama – Oleh Candra Wiguna

Review Film PK oleh Indonesia Tanpa JILRepost dari : http://candrawiguna.com/kritik-film-pk-terhadap-agama/

Berawal dari sebuah poster di facebook tentang ajakan pertemuan terbuka untuk membahas mengenai film PK yang diadakan oleh IslamTanpaJIL, saya kemudian penasaran mengenai bagaimana pandangan dari komunitas tersebut, mengingat bagi saya film ini sangat fenomenal dan mereka sendiri pun dalam posterny menyebut film ini sebagai “film radikal”. Karena saya tidak mungkin ikut pertemuan tersebut, maka saya berusaha menunggu hasil laporannya saja.

Sayangnya ketika catatan hasil kajian tersebut dipublikasi, saya merasa tidak puas karena disana hanya ditulis mengenai garis besar dan kesimpulannya saja, tidak dijelaskan secara rinci apa saja yang dibahas, bagian mana yang dianggap kritikan radikal, dan jawaban narasumber atas tiap kritik tersebut.

Masih penasaran dengan tanggapan masyarakat Indonesia mengenai film tersebut saya kemudian mencoba mencari di situs lain, namun kebanyakan tulisan yang saya temukan hanya berupa review atau ulasan film. Satu-satunya artikel yang memberi tanggapan atas kritik PK terhadap agama yang saya temukan hanyalah tulisan dari Ustad Hafidz Ary yang dimuat di Fimadhani. Sayangnya (lagi) saya tidak puas dengan tanggapan tersebut.

Ustad Hafidz Ary terlalu sempit menangkap film tersebut, mengira bahwa PK hanya mengkritik Islam ketika adegan mengenai Islam ditayangkan, yaitu seputar cadar, larangan sekolah bagi anak perempuan, dan terorisme. Padahal bisa saja kritikan terhadap Islam disampaikan bersamaan ketika ada adegan kritik terhadap agama lain dilayangkan. Contoh, ketika ada yang mengkritik sikap sebagian umat kristiani yang anti pernikahan homoseksual itu sama artinya dengan mengkritik sikap sebagian umat muslim, karena sebagian muslim juga anti pernikahan homoseksual. Pada PK, kritik terhadap agama itu sifatnya umum, bukan hanya khusus pada satu dua agama, sehingga ketika ada kritik mengenai agama A, peru dipikirkan juga apakah poin yang dikritik pada agama A itu ada atau tidak pada agama B.

Selain itu Ustad Hafidz Ary juga terlalu memaksakan pendapatnya, dengan mudah dia menjawab terorisme tidak ada dalam Islam tanpa memberi penjelasan mengenai bagaimana cerita muslim bisa terlibat aksi terorisme, akar masalahnya dimana, dan solusinya bagaimana, begitu pula soal larangan sekolah bagi anak perempuan. Seakan-akan beliau mengabaikan fakta bahwa memang ada sebagian muslim yang menafsirkan ajaran Islam seperti itu. Pokoknya kritik mengenai Islam di film itu ngawur tapi kritik pada agama lain itu benar. Islam bisa menjawab kritik di film PK sedang agama lain gak bisa jawab. Kritik film PK terhadap Islam tidak jujur, hanya bisa mengkritik muslim tapi tidak bisa mengkritik konsep Islam (padahal di film PK tidak terang-terangan membawa dalil agama manapun). Konsep ketuhanan dalam Islam jelas, tak ada celah (padahal tidak mengkritik konsep ketuhanan, tapi lebih pada konsep sosial dan budaya). Maksa banget lah pokoknya.

Sayangnya, ketika saya saya baca di komentar baik Facebook maupun Fimadhani, banyak yang setuju dengan tulisan yang menurut saya kurang berkualitas itu. Lho, ini emang mereka gak pada nangkep poin kritiknya, sedang membohongi diri sendiri, atau saya yang terlalu lebay mencerna film ini? Karenanya saya membuat tulisan ini sebagai bentuk kejujuran atas penerimaan kritik, dan agar orang lain tahu bahwa kritik terhadap agama dalam film PK itu sangat luas, yang bahkan tulisan saya ini belum tentu mampu menjabarkannya (karena gambar dan video bisa menyampaikan jauh lebih banyak informasi daripada sekadar tulisan).


1. Tuhan Lahir Dari Harapan dan Keterbatasan

Cerita film PK dimulai dengan kedatangan alien dengan pesawat luar angkasanya ke bumi. Para alien itu datang dengan tujuan ingin mempelajari kehidupan di bumi, dan untuk itu mereka menugaskan satu di antara mereka untuk tinggal sementara. Alien yang ditugaskan tersebut dibekali dengan remote control yang bentuknya seperti kalung, yang berguna untuk memanggil pesawat luar angkasa ketika tugasnya telah selesai. Sayangnya baru beberapa saat sampai di bumi, remote control berbentuk kalung tersebut dicuri karena dikira sebagai perhiasan berharga. Sang Alien yang remote controlnya dicuri panik karena tanpa benda itu dia tidak bisa pulang kembali ke planetnya. Maka dia pun melakukan perjalanan untuk mendapatkan kembali remote control tersebut.

Dalam perjalanan mencari remote control, Sang Alien mempelajari banyak hal tentang kehidupan di bumi. Mulai dari pakaian, cara bertransaksi dengan uang, dll hingga akhirnya dia ditabrak oleh seseorang, dan berkat orang yang menabraknya itu dia tahu bahwa remote control yang telah dicuri tersebut kemungkinan bisa ditemukan di Delhi, dan dia pun berangkat kesana.

Sayangnya, begitu sampai di Delhi,  dia sadar bahwa kota itu terlalu besar dan padat untuk mencari sebuah remote control seukuran kalung itu. Sang Aliensadar bahwa kemampuannya terlalu terbatas untuk menghadapi situasi yang sedang dia alami, dan dia pun kemudian menjadi frustasi.

Dalam kondisi itu Sang Alien kemudian mencoba bertanya pada orang-orang di Delhi tentang bagaimana cara dia bisa mendapatkan remote control tersebut. Anehnya, setiap dia bertanya, orang-orang selalu memberi jawaban yang sama “Hanya tuhan yang bisa membantu mu menemukannya”.

Tuhan? Siapa Tuhan? Tampaknya sosok ini benar-benar hebat hingga dipercaya oleh banyak orang. Sang Alien pun kemudian menaruh harapan besar pada sosok yang bernama tuhan tersebut. Perasaan yang sebelumnya berupa frustasi kemudian bisa reda karena ada harapan baru, dan ia semangat hidupnya pun muncul dan tercurahkan dalam usaha pencarian tuhan.

Orang-orang Menyarankan Peekay Untuk mencari Tuhan

Orang-orang mengatakan hanya tuhan yang bisa membantu menemukan remote control seukuran kalung di kota sebesar Delhi

 

Setidaknya itulah gambaran singkat yang ingin disampaikan oleh film PK, bahwa tuhan itu lahir sebagai harapan atas kesadaran akan keterbatasan manusia, rasa frustasi, dan kondisi sulit seseorang. Walau jawaban itu bukan berarti sebuah solusi, karena Sang Alien tidak berhasil menemukan remote control sekalipun melakukan berbagai usaha dalam pemujaan tuhan, namun tuhan sebagai harapan bisa membuat orang tetap waras dan punya alasan untuk bertahan hidup dalam kondisi sulit.

Kepercayaan akan Tuhan muncul dari harapan dan kesadaran akan keterbatasan manusia

Kepercayaan akan Tuhan muncul dari harapan dan kesadaran akan keterbatasan manusia

 

Karena tuhan bisa membantu manusia tetap bertahan hidup dengan cukup waras dalam kondisi sulit itulah mengapa konsep ketuhanan sebenarnya sifatnya baik, dan sulit untuk dilepaskan, sekalipun tidak rasional, dan tidak memberi solusi atas masalah. Saya sendiri misalnya, sekalipun logika saya mengatakan bahwa tuhan itu tidak masuk akal, tidak bisa dipungkiri bahwa ketika dalam posisi sulit saya sering berdoa pada tuhan, karena dengan doa itu saya kemudian merasa nyaman dan lebih percaya diri.

2. Ternyata Ada Banyak Jenis Tuhan di Dunia Ini

Ketika Sang Alien memutuskan untuk memohon bantuan pada tuhan, maka tuhan pertama yang dia datangi adalah sosok berkepala gajah bertubuh manusia yang tidak lain adalah Ganesha, salah satu dewa dalam kepercayaan Hindu. Awalnya dia merasa permohonannya dikabulkan, tapi ketika meminta remote control ternyata doa itu tidak terwujud. Dia pun mencoba berdoa pada Ganesha dalam ukuran yang lebih puas, namun karena merasa tidak puas dia kemudian membuat gaduh dan diamankan oleh polisi.

Polisi yang mengamankan Sang Alien mengecek KTP, dan dari nama yang mirip nama orang Kristen maka Sang Alien dirujuk ke gereja. Sayangnya di gereja dia melakukan ritual pemujaan selayaknya pemujaan pada Ganesha, situasi pun gaduh kembali dan dia kemudian diusir. Dia bertanya-tanya kenapa diusir, dan dia pun “sadar” (baca: mengira) bahwa tuhan tidak suka dengan air kelapa yang dia persembahkan, tuhan lebih suka dengan wine.

Oh ya, ketika membuat gadung di kantor polisi dan gereja, orang-orang mengira Sang Alien ini mabuk (dalam bahasa Hindu: mabuk = peekay) sehingga Sang Alien pun kemudian menyebut dirinya dengan nama Peekay.

Pasca diusir dari gereja, Peekay bertekad untuk membeli wine untuk nanti dipersembahkan pada tuhan. Ketika uang telah terkumpul, wine sudah dibeli, dia pun pergi ke masjid untuk mempersembahkan wine itu, namun belum sempat sampai ke dalam masjid, Peekay keburu dikejar oleh orang-orang yang marah, karena wine tersebut.

Peekay Dikejar-kejar Penganut Sikh

Kejadian Peekay dikejar oleh orang-orang karena salah melakukan ritual pemujaan terjadi berkali-kali, dan ini membuat dia sadar bahwa ternyata ada banyak tuhan di dunia ini, dimana tiap tuhan punya sifat yang berbeda, ada tuhan yang suka air kelapa, ada tuhan yang suka wine, dan ada tuhan yang benci manusia membawa wine. Selain sifat tuhan, budaya dari penyembah masing-masing tuhan itu pun berbeda, ada yang berbaju kuning berkepala botak, ada yang bersorban, ada yang menggunakan cadar. Tiap masing-masing konsep tuhan, ritual, dan berbagai tradisi ini lah yang kemudian kita kenal sebagai agama.

3. Setiap Tuhan Punya Manajer Tersendiri

Selain menyadari bahwa tuhan ternyata ada banyak, Peekay juga menyadari bahwa tiap tuhan itu punya perwakilan berupa seorang tokoh manusia di dunia. Tokoh bertindak selayaknya seorang manajer, dimana dia lah yang menyampaikan konsep ketuhanan, bagaimana ritual penyembahan yang diinginkan tuhan, hingga menentukan mana yang benar dan salah menurut tuhan kepada para pengikut tuhan.

Dalam film PK yang dimaksud manajer bisa merupakan orang pertama dari tuhan, seperti Tapasvi Maharaj yang mengaku langsung mendapat bertemu dan menerima wahyu dari Dewa Siwa, bisa juga orang yang melanjutkan wahyu yang didapat oleh orang pertama tersebut, seperti brahmana, pendeta, ulama, biksu, dll.

Tiap Agama Punya Manajer Tersendiri

Manajer palsu  dan manajer salah sambung

Karena tiap tuhan punya manajer, karena segala konsep ketuhanan dan agama melibatkan manajer,  dan karena semua manajer itu adalah manusia, maka film PK sebenarnya ingin menyampaikan bahwa semua tafsir terhadap agama yang dilakukan oleh para tokoh agama itu sifatnya manusiawi, yang bisa salah alias salah sambung, atau bisa juga sengaja dimanfaatkan oleh manajer (palsu) demi memuaskan nafsunya sendiri.

Secara ekstrim, film PK bahkan mengajak kita untuk bertanya apakah benar pendiri agama yang kita kenal selama ini memang mendapat wahyu dari tuhan atau tidak.

Apakah benar Sapta Rsi menerima wahyu?
Apakah benar Paulus bermimpi bertemu Yesus?
Apakah benar Siddharta tercerahkan setelah bersemadhi?
Apakah benar Nabi Muhammad bertemu jibril di Gua Hira?

Intinya dalam poin ini film PK mengajak kita skeptis untuk menyikapi setiap ajaran agama, karena bisa saja, tafsir dari tiap tokoh agama, atau bahkan bisa saja ajaran dari para penerima wahyu itu cuma karang-karangan saja seperti halnya Tapasvi Maharaj yang mengarang cerita wahyu Dewa Siwa demi mendapatkan harta dan kekuasaan.

4. Religiuitas Seringkali Hanya Dinilai Dari Luar

Salah satu adegan yang saya suka dari film PK yaitu ketika Tapasvi Maharaj dikelabui oleh Peekay, dimana dia ditantang untuk menebak apa agama yang dianut oleh orang-orang yang disiapkan oleh Peekay. Tapasvi Maharaj menjawab dengan cepat dan jawabannya berdasarkan pada penampilan dari orang-orang tersebut. Sayangnya jawaban Tapasvi Maharaj tersebut salah karena Peekay sebelumnya telah mengubah tampilan tiap orang yang dibawanya dengan menukarnya satu sama lain. Orang yang dikira beragama Kristen ternyata adalah muslim, orang yang dikira beragama Jainisme ternyata kristiani, orang yang dikira muslim ternyata penganut Hindu.

Benar bahwa tiap agama punya ciri khas, baik berupa ritual, desain rumah ibadah, nama orang, hingga cara berpakaian. Entah mengapa tiap manajer ingin membuat pengikutnya tampil beda satu sama lain, tapi karena ciri khas ini lah kita sering tertipu dalam menilai orang, seperti halnya Tapasvi Maharaj yang tertipu oleh trik sederhananya Peekay.

Agama Dinilai Dari Penampilan

Dalam kehidupan nyata, hal ini sering menjadi masalah, terutama ketika orang terlalu fanatik dan mengira bahwa nama, pakaian, rumah ibadah, dan ritual sebagai suatu identitas yang tidak boleh ditiru oleh penganut kepercayaan lain. Contoh, pernah saya melihat protes dari beberapa muslim terkait foto penganut Kristen Ortodoks Syria yang menggunakan jilbab dan beribadah mirip muslim. Mereka mengira bahwa umat Kristen Ortodoks Syria itu sedang meniru Islam dan mengelabui muslim sehingga umat muslim jadi pindah agama, padahal setahu saya itu memang tradisi mereka dari dulu.

Hal yang sama juga terjadi ketika umat Katolik di Bali pergi ke gereja dengan pakaian adat Bali yang berupa kebaya brokat, kamben, udeng, dsb, menggunakan istilah Ida Sang Hyang Yesus (mirip Ida Sang Hyang Widhi dalam Hindu Bali), sampai ada merajan (sejenis Pura khusus keluarga) yang sebenarnya merupakan tempat pemujaan untuk Yesus.

Umat Katolik menyanyikan lagu pujian saat melaksanakan misa Natal di Gereja Katolik Tritunggal Mahakudus Paroki, Desa Tuka, Badung, Bali, Rabu (24/12).

Merajan Yesus

Banyak teman Hindu yang marah mengetahui hal ini, alasannya sama, yaitu mengira umat Katolik ingin mencuri budaya Hindu, mengelabui umat Hindu hingga mau masuk agama mereka. Sebaliknya saya menganggap hal ini bukan masalah, saya justru merasa bersyukur teman-teman Katolik mau mempertahankan tradisi Hindu Bali sehingga identitas dan budaya Bali masih bisa terjaga, sekalipun bukan menganut kepercayaan Hindu. Kita sering protes pada beberapa komunitas muslim yang tampilannya kearab-araban, mengubah kebaya menjadi cadar, melupakan tradisi lokal, tapi ketika ada non Hindu di Bali yang lebih memilih mempertahankan tradisi lokal eh diprotes juga, maunya apa coba?

Catatan:
Ada beberapa alasan yang membuat saya mendukung umat Katolik untuk mempertahankan tradisi Bali yang mirip Hindu, namun karena cukup panjang, maka saya ingin membuat artikelnya secara terpisah. Sementara ini dulu.

Selain masalah yang timbul antar agama akibat penilaian dari luar, masalah lain adalah ketika orang menilai derajat keimanan seseorang dari pakaian. Ada muslim yang menuduh temannya muslim KTP hanya karena tidak mengenakan jilbab, ada kristen yang menuduh temannya sesat karena menyukai musik metal, sebaliknya ada orang yang berpenampilan dan menggunakan istilah Arab ketika bicara sehari-hari (antum, ente, ukhi, ummi, dsb) agar terlihat Islami, ada yang menggunakan pakaian ala India agar terlihat kembali ke ajaran Hindu yang asli, ada sengaja menggunduli kepala agar orang lain mengira dirinya telah tercerahkan, ada yang sengaja membuat tanda hitam atau contrang contreng di dahi agar orang lain mengira dirinya religius dan rajin beribadah.

Mendadak berjilbab, fenomena yang sering terjadi di pengadilan

Peekay ingin menunjukkan bahwa penampilan luar seperti ini tidak bisa digunakan sebagai acuan untuk menilai agama dan religiuitas seseorang, karena sifatnya sangat mudah dimanipulasi. Jika tuhan memang berbeda untuk tiap orang, jika tuhan ingin menunjukkan religiutitas seseorang pada manusia lain, maka mestinya tuhan memberikan tanda khas yang permanen di tubuh manusia sejak manusia itu lahir.

5. Agama Menjual Ketakutan Untuk Mendapat Pengikut

Di poin pertama sudah dijelaskan bagaimana tuhan muncul sebagai bentuk harapan atas keterbatasan manusia sehingga dia mampu memberikan rasa nyaman ketika manusia merasa cemat, takut, atau frustasi. Ini artinya, semakin orang takut, semakin orang frustasi, dia akan semakin membutuhkan tuhan, semakin membutuhkan agama, semakin mudah tunduk pada ajaran agama.

Dalam film PK, contoh tempat menakutkan itu adalah kampus, dimana mahasiswa sangat takut pada dosen, takut nilainya jeblok, takut tidak lulus, dan takut tidak mendapatkan pekerjaan di kemudian hari. Akibat ketakutan ini maka mahasiswa mau melakukan apapun untuk membuat dirinya merasa tenang, aman dan terlindung, termasuk melakukan hal tidak realistis seperti penyembahan pada tuhan atau entitas gaib lain, dan tentu saja hal ini menjadi rawan dimanfaatkan oleh para manajer palsu agar orang-orang mau melakukan sesuatu demi kepentingan pribadinya seperti harta atau kekuasaan.

Orang Memuja Tuhan Karangan Manajer Palsu

Sengaja menciptakan ketakutan

Adegan mahasiswa yang menyembah tuhan palsu buatan Peekay menunjukkan bahwa ketakutan sangat efektif dalam memperalat orang lain, dan keuntungan dari hasil memperalat itu sangat menggiurkan. Bagaimana tidak, Peekay yang mencoba menjadi manajer palsu, cukup dengan bermodalkan batu, cat merah, dan sedikit uang bisa menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda, lebih dari itu dia memperoleh keuntungan secara otomatis, jauh lebih mudah dibanding penjual minuman yang butuh banyak modal serta lelah menjajakan minumannya pada tiap mahasiswa di kampus.

Dalam dunia nyata tentu manajer palsu itu ada, dan mereka ingin menggunakan trik yang sama untuk memperalat manusia. Masalahnya, apa hal yang bisa menakut-nakuti manusia? Tidak semua orang takut dosen, tidak semua orang takut binatang buas, bahkan ada orang yang tidak takut mati. Nah, karena tiap orang mengalami masalah dan ketakutan nyata yang berbeda, maka dimanfaatkanlah ketakutan yang sifatnya lebih universal yaitu neraka.

Konsep surga dan neraka yang muncul sebagai bentuk harapan atas ketidakadilan di dunia bisa dimanfaatkan oleh para manajer palsu untuk meningkatkan rasa ketakutan manusia. Beragam cerita penyiksaan pun disampaikan, mulai dari api yang sangat panas, kulit dikelupas, jatuh ke jurang yang penuh duri, berjalan di atas pisau yang lebih tajam dari silet, dan berbagai penyiksaan kejam lain. Agar efek ketakutan berlipat-lipat ganda, maka ditambah cerita bahwa penyiksaan itu sifatnya abadi tanpa batas. Tuhan digambarkan sebagai sosok yang sadistik dan tanpa mengenal ampun.

Gambaran Situasi Neraka Yang Menyeramkan

Penyelamat yang melupakan moralitas

Ketika Peekay membuat tuhan palsu berupa batu yang dicat merah, keberadaan tuhan buatannya itu seakan ingin mengatakan bahwa “Jika ingin lulus ujian, maka puja lah batu ini dengan memberikan persembahan berupa uang“. Mahasiswa yang memuja batu itu pun kemudian mendapatkan rasa nyaman dan aman setelahnya.

Pada agama juga berlaku hal yang sama dimana agama ingin mengatakan bahwa “Jika ingin selamat dari neraka, maka masuk lah agama ABC, dan sembah lah tuhan XYZ“, dan para penganut agama itu pun merasa nyaman dan aman dari ancaman neraka.

Terlepas dari cerita bahwa “tidak lulus ujian” itu adalah masalah yang nyata, sedang “neraka” itu masih berupa konsep, tawaran rasa aman antar keduanya, baik itu dari menyembah batu maupun masuk agama ABC, sama-sama bisa membuat orang lupa pada solusi yang sebenarnya. Solusi untuk lulus ujian adalah belajar bukan menyembah batu, begitu pula dengan neraka, dimana jika surga-neraka itu adalah konsep tentang keadilan, maka solusi agar aman dari neraka adalah memperbanyak perbuatan baik dan mengurangi perbuatan jahat, bukan tentang apa agama yang dianut, bukan pula tentang siapa tuhan yang disembah.

Disini lah kita bisa membedakan mana tuhan palsu dan mana tuhan yang sebenarnya. Manajer palsu seperti Peekay tidak akan peduli mahasiswa itu belajar atau tidak, bagi dia, selama tuhan batu buatannya itu disembah, selama orang-orang mempersembahkan uang pada tuhan batu buatannya, maka dia akan senang. Sayangnya, dalam beberapa agama, sering ada konsep salah sambung seperti ini, dimana dimana penyembahan terhadap tuhan atau masuk tidaknya seseorang dalam sebuah agama lebih diprioritaskan ketimbang moralitas (perbuatan baik dan buruk) sebagai jawaban atas surga dan neraka.

Orang itu mengatakan saya harus masuk Kristen agar bisa masuk surga. Jika tuhan ingin saya masuk Kristen, kenapa saya tidak dilahirkan di keluarga Kristen saja?

Kepercayaan yang sama juga ada pada sebagian umat muslim, dimana non muslim tidak punya kesempatan masuk surga seberapa banyak pun perbuatan baik yang mereka lakukan. Dalam Islam, kebaikan non muslim hanya dibalas di dunia saja, bukan pasca kematian. Pandangan Islam yang memprioritaskan penyembahan tuhan dibanding moralitas lebih parah ditunjukkan pada dalil berikut, dimana dengan jelas mengatakan bahwa selama seseorang tidak mempersekutukan Allah (melakukan dosa syrik), dia akan tetap masuk surga, seberapa besar pun kejahatan yang mereka lakukan:

Abu Dzar mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Seseorang datang kepadaku dari Tuhan ku membawa berita (mungkin katanya: membawa berita gembira): ”Sesungguhnya barang siapa diantara umatku yang mati sedangkan dia tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun orang itu masuk surga.” Aku bertanya: “Sekalipun orang itu berzinah dan mencuri?” Jawab nabi: “Ya, sekalipun dia berzinah danmencuri.”

Bukhari Volume 2, Buku 23, Nomor 329

Tidak hanya pada agama abrahamik, dalam Hindu saya menemukan konsep yang serupa walau tidak terkait dengan surga dan neraka, dimana dalam kisah Ramayana diceritakan bahwa Rahwana yang melakukan pemujaan pada Brahma tetap mendapatkan anugerah berupa kesaktian, sekalipun Dewa Brahma sendiri tahu bahwa Rahwana adalah orang jahat dan akan memanfaatkan anugerah tersebut untuk melakukan tindak kejahatan.

6. Kritik Mengenai Ritual Agama

Dalam film PK ada beberapa adegan yang menampilkan ritual penyembahan dalam berbagai agama. Semua ritual tersebut diikuti sendiri oleh Peekay dalam usaha menemukan remote controlnya. Jujur saya, karena tidak terlalu suka lagu India, saya jadi tidak begitu menyimak bagian ini, namun ada 2 kritik yang saya tangkap:

Penyiksaan Diri

Kritik mengenai hal ini paling jelas terlihat ketika Peekay ikut melakukan ritual peringatan hari Asyura yang biasa dilakukan umat muslim syiah (bagi saya ini sekaligus adegan paling epic), dimana dengan senjata berupa rantai, dia cambukkan ke badannya sendiri hingga berdarah-darah. Kritik yang lebih ringan misalnya ketika umat Hindu yang melakukan ritual shayanapradikshanam dengan berguling-guling di jalan raya.

Ritual Syiah Dalam Film PK

Peekay Ikut Berguling di Jalapn

Pada dasarnya semua agama (yang saya tahu) punya ritual penyiksaan diri dengan berbagai alasan atau tujuan yang berbeda. Ada yang percaya bahwa dengan menyiksa diri maka orang bisa belajar untuk melepaskan nafsu keduniawian, ada yang mengatakan bahwa dengan menyiksa diri kita bisa merasakan penderitaan orang lain, padahal ya mau kita tersiksa atau tidak, hal itu tidak membantu meringankan orang lain.

Ritual penyiksaan diri paling sederhana dan sering ditemui adalah puasa, dimana hal ini dikenal baik dalam Hindu, Buddha, maupun Islam, dan saya kurang menemukan alasan yang cukup logis untuk membenarkan ritual ini. Saya pikir menahan lapar tidak bisa membuat manusia menjadi bijak, tidak pula membuat perut orang kelaparan di jalan menjadi kenyang.

Jika dihubungkan dengan kesehatan, memang saya pernah saya membaca artikel yang mengatakan bahwa puasa sebagai salah satu cara detoksifikasi atau upaya menghilangkan racun dari tubuh, namun puasa untuk detoks tidak sama dengan konsep puasa dalam agama. Puasa untuk detoks hanya puasa makan namun minum air justru diperbanyak, sedang puasa dalam agama tidak hanya puasa makan namun juga puasa minum.

Catatan:
Puasa tidak sama dengan diet, puasa diartikan sebagai pengurangan porsi makan sedang diet adalah upaya mengatur pola makan agar tubuh menjadi sehat. Orang kurus memperbanyak jumlah asupan makanan agar tambah gemuk bisa disebut diet tapi tidak bisa disebut sebagai puasa.

Di luar ritual rutin yang aneh dan menyiksa diri, sering juga terjadi insiden dalam ritual agama yang bahkan menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Misalnya pada tahun 2006 terjadiinsiden Mina yang menewaskan 362 orang jamaah haji, sedang tahun 2008 terjadi insiden Kuil Jodhpur yang menewaskan 224 orang, semua korban akibat kedua insiden tersebut meninggal karena terinjak-injak. Tentu saja masalahnya bukan hanya tentang kurang siapnya penyelenggara ritual keagamaan ini, tapi juga karena masyarakat yang terlalu bernafsu untuk melaksanakan ritual tanpa memikirkan keselamatan orang lain dan dirinya sendiri.

Korban Insiden Jodhpur

Ritual yang mubazir

Di film terdapat adegan dimana Peekay menuangkan sejumlah susu pada lingga sebagai bentuk penyembahan pada Dewa Siwa, dimana ritual ini merupakan hal rutin yang dilakukan umat Hindu di India. Selain sebagai ritual rutin, ada juga ritual dimana umat Hindu di India menuangkan susu dalam jumlah yang sangat banyak pada patung Dewa Siwa berukuran raksasa.

Sekilas kita bisa melihat bagaimana umat Hindu di India melakukan sebuah ritual yang kesannya mubazir. India yang keadaannya miskin dan kekurangan gizi, bukannya menggunakan susu untuk membantu anak yang masih kelaparan, malah dibuang untuk kegiatan ritual penyembahan. Banyak yang mengkritik hal ini, misalnya di blog berikut.

Peekay menuangkan susu pada lingga (simbol penyembahan siwa)

Orang-orang Menuangkan Susu Pada Patung Siwa

Pada dasarnya semua agama memang memiliki kebiasaan untuk menghabiskan banyak uang dalam ritualnya, dimana ritual tersebut tidak ada hubungannya dengan tujuan kemanusiaan. Hindu di Bali mengenal perayaan ogoh-ogoh yang tiap tahunnya menghabiskan uang sebanyak lebih dari 24 milyar rupiah, dimana ogoh-ogoh itu hanya digunakan beberapa jam untuk kemudian dibakar. Islam mengenal ibadah haji yang di Indonesia saja menghabiskan uang sebanyak 9 triliun rupiah tiap tahunnya, dimana sebagian dari uang tersebut larinya ke negara asing (Arab Saudi ), Kristen mengenal perayaan natal dengan pohon, hiasan, dan berbagai pesta penyambutannya. Tapi sulit untuk mengatakan apakah perayaan tersebut mubazir atau tidak. Pasalnya, ritual dalam perayaan agama seringkali memang bukan bertujuan untuk kemanusiaan melainkan untuk memenuhi kebutuhan batin umatnya.

Seperti yang pernah saya tulis ketika menanggapi ritual perayaan ogoh-ogoh,  mengatakan suatu ritual agama sebagai hal yang mubazir hanya karena tidak ada hubungannya dengan aksi kemanusiaan sama seperti mengatakan bahwa perayaan tahun baru, jalan-jalan ke luar negeri, sebagai hal yang mubazir. Walau demikian saya setuju bahwa dalam menilai ritual perlu dipertimbangkan untung ruginya, seberapa banyak materi yang kita keluarkan, dan seberapa manfaat yang kita peroleh kegiatan tersebut. Jika kegiatannya berupa persembahan makanan atau minuman yang nantinya tidak bisa dikonsumsi lagi, atau berupa jalan-jalan ke luar negeri yang bisa merugikan Indonesia, maka selayaknya kegiatan tersebut ditinjau ulang, apakah layak dipertahankan atau tidak.

7. Mempertanyakan Norma Agama

Penggolongan kelas masyarakat

Bukan hal baru jika hampir semua agama punya permasalahan dengan konsep kesetaraan dan keadilan sosial. Hindu misalnya, mengenal tingkatan kelas sosial di masyarakat, dimana hal ini sering berujung pada diskriminasi. Mungkin ada yang ingin mengatakan bahwa Hindu tidak mengenal kasta, yang ada adalah konsep catur warna, yaitu pembagian kelompok masyarakat berdasarkan pekerjaan. Tapi sungguh, kenalan paling nyata itu bukan teori, tapi fakta di lapangan.

Faktanya Hindu baik di India maupun di Bali menerapkan kasta berdasarkan keturunan. Di Bali mungkin masalahnya hanya terjadi ketika 2 orang dari golongan berbeda memiliki hubungan asmara, tapi di India perbedaan kasta sangat berpengaruh pada kondisi sosial yang dia alami. Orang dengan kasta rendah tidak hanya dilecehkan, tapi juga hidupnya dipersulit, sehingga berujung pada kemiskinan dan kebodohan.

Beda dengan Hindu, dalam Islam penggolongan masyarakat bukan berdasarkan keturunan, melainkan berdasarkan agama. Muslim dihargai lebih tinggi dibanding non muslim, sedang non muslim pun dibagi lagi, golongan Yahudi dan Nasrani dianggap lebih berharga dibanding non muslim seperti Majuzi, Hindu, ataupun Buddha.

Kesetaraan gender

Kesetaraan gender masih menjadi masalah di India dan sebagian negara muslim. Jika di India masalah kesetaraan gender masih sebatas norma, di sebagian negara muslim terutama timur tengah diskriminasi terhadap perempuan lebih parah karena diterapkan dalam bentuk hukum (hukum syariah). Larangan perempuan untuk keluar rumah sendirian, larangan menyetir mobil tanpa ditemani keluarga, larangan bekerja, larangan bersekolah, hingga aturan konyol tentang larangan perempuan menggunakan garpu adalah sebagian dari contoh norma dan hukum yang dianut di sebagian masyarakat.

Benarkah Tuhan Ingin Perempuan Tidak Sekolah

Bohong jika kita mengatakan masalah kesetaraan gender ini tidak ada hubungannya dengan agama ketika kenyataannya para pelaku diskriminasi itu menggunakan dalil agama untuk membenarkan perbuatannya. Di Islam misalnya, ada dalil yang mengatakan bahwa syarat jumlah saksi adalah 2 orang pria atau 1 orang pria dan 2 orang perempuan, dan dengan dalil ini mereka beranggapan bahwa perempuan nilainya hanya setengah dari laki-laki, dan ini berdampak luas terhadap bagaimana para lelaki muslim memandang rendah wanita.

Muslim Mengadakan Pertemuan Untuk Membahas Hak Perempuan

Pandangan terhadap homoseksual

Isu homoseksual masing banyak diperdebatkan hingga kini, namun nampaknya agama abrahamik yang paling keras membahas isu ini. Umat kristiani di Eropa dan Amerika yang secara umum lebih liberal pun masih ada yang menganggap bahwa homoseksual itu sebagai sebuah bentuk penyimpangan, penyakit, bahkan kejahatan, sekalipun telah ditunjukkan bahwa homoseksualitas juga ditemukan pada spesies lain selain manusia, ditunjukkan bahwa homoseksualitas juga terkait dengan genetik dan epigenetik, dan tentu saja ditunjukkan bahwa pelaku homoseksual tidak merugikan orang lain.

Di Amerika beberapa negara konservatif masih belum mau menerima legalitas pernikahan sesama jenis, sedang di beberapa negara timur tengah, Iran misalnya, homoseksual malah dianggap sebagai kejahatan luas biasa yang membuat pelakunya layak dihukum mati. Eksekusi matinya pun tidak main-main, ada yang digantung dan mayatnya dipertontonkan pada publik, oleh ISIS bahkan pelaku homoseksual bisa dilempar dari gedung tinggi.

Perbudakan dan hukuman mati

Sejak Abraham Lincoln dengan tegas melarang perbudakan, semua negara mulai mengikutinya hingga kini perbudakan dilarang di semua negara. Mungkin prakteknya masih eksis, namun tersembunyi, tapi tahukah anda bahwa sebagian orang beranggapan bahwa perbudakan layak dipraktekkan kembali karena hal tersebut dianggap solusi yang benar sesuai anjuran tuhan? Salah seorang politikus Kuwait misalnya pernah secara terbuka mengungkapkan hal tersebut. Mungkin orang ini terkesan agak gila, tapi memang dalam Islam sendiri tidak ada larangan tegas mengenai perbudakan. Muslim memang dianjurkan untuk membebaskan budak dengan berbagai tawaran pahala, namun di sisi lain tidak ada larangan (misalnya menyatakan haram) terhadap perbudakan, yang ada adalah ayat yang menghalalkan muslim berhubungan badan dengan budak.

Politikus Kuwait Ingin Perbudakan Seks

Hal yang sama juga terjadi pada kasus hukuman mati, dimana ketika banyak negara mulai meninggalkan hukuman mati dengan alasan kemanusiaan dan tidak terbukti efektif, praktek hukuman mati justru banyak dibela dengan alasan agama. Parahnya, praktek hukuman mati yang katanya berdasarkan agama itu sangat lah sadis, hukuman rajam misalnya dimana eksekusinya tidak hanya dilakukan di ruang publik, tapi publik sendiri ikut menjadi eksekutornya. Bayangkan bagaimana mental orang-orang yang ikut menjadi penonton dan eksekutor itu. Mereka akan terbiasa pada pembunuhan sehingga penghargaan pada nyawa manusia akan pudar, manusia menjadi brutal dan akan menganggap enteng aksi kekerasan.

Baca juga tulisan opini saya yang menolak praktek hukuman mati

Norma agama sulit dihapus

Masalah kasta, isu kesetaraan gender, homoseksualitas, perbudakan, itu semua ada hampir di semua tempat. Jepang misalnya, dulu juga menganut sistem kasta dimana kelas masyarakat dibedakan menjadi kelas samurai dan petani, masalah kesetaraan gender dan perbudakan juga ada di Cina, tapi seiring perkembangan zaman hal tersebut mulai ditinggalkan (walau prakteknya masih ada), alasannya sederhana, karena mereka sadar bahwa hal tersebut tidak baik, tidak manusiawi, tidak layak diterapkan di zaman modern. Hal yang sama tidak berlaku ketika ajaran kasta, diskriminasi perempuan, atau perbudakan, dianggap sesuai dengan ajaran agama. Agama karena dianggap sebagai sumber ajaran yang sempurna, langsung diturunkan dari tuhan, akan menganggap bahwa ajaran tersebut lah sebagai kebenaran, maka tidak mengherankan jika permasalahan kasta, diskriminasi perempuan, atau perbudakan masih terjadi secara masif dan dilakukan secara terbuka di negara yang penduduknya masih fanatik pada agama.

8. Agama Bisa Memecah Belah Manusia

Ketika keluarga Jaggu tahu bahwa dia sedang menjalin hubungan asmara dengan Sarfaraz Yusuf yang merupakan seorang muslim Pakistan, mereka langsung khawatir dan menghubungi Tapasvi Maharaj untuk berkonsultasi dan memberi pencerahan pada Jaggu Saat itu lah Tapasvi Maharaj menyarankan pada Jaggu untuk segera mengakhiri hubungannya karena menurutnya muslim itu tidak bisa dipercaya. Dia mengatakan bahwa Sarfaraz Yusuf hanya akan memanfaatkan Jaggu dan tidak akan pernah menikahinya.

Semua Orang Islam Itu Jahat

Yang terjadi setelahnya adalah, ketika Jaggu datang ke gereja untuk mendaftarkan pernikahan, dia tidak menemukan Sarfaraz, dia pun kecewa karena apa yang dikatakan Tapasvi Maharaj menjadi kenyataan. Namun di akhir cerita baru diketahui bahwa Sarfaraz tidak pernah meninggalkan Jaggu. Kejadian di gereja hanya salah paham dimana Jaggu mengira sebuah surat yang anak kecil berikan di gereja itu ditunjukkan untuk dirinya, padahal sebenarnya surat itu untuk wanita lain.

Makna cerita ini sangat sederhana, bahwa ada orang atau agama yang mengajarkan kebencian, dan dengan kebencian itu kita mudah berprasangka buruk pada orang lain, dan dengan prasangka buruk itu orang menjadi mudah salah paham, dimana ketika kesalahpahaman itu terjadi, semua pihak menjadi dirugikan.

Di Islam misalnya, ada ayat yang secara literal mengatakan bahwa umat nasrani dan yahudi itu membenci muslim, dimana umat nasrani dan yahudi dikatakan tidak akan merasa senang hingga muslim mau masuk agama mereka.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu, sehingga kamu mengikuti agama mereka.

Al Baqarah ayat 120

Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah, dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir benci.

Ash-Shaff ayat 8

Khusus untuk Yahudi (entah maksudnya agama atau suku), bahkan dikatakan bahwa dunia tidak akan kiamat hingga semua muslim membunuh Yahudi.

Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kamu sekalian pasti akan memerangi orang-orang Yahudi, lalu kamu akan membunuh mereka, sehingga batu berkata: Hai muslim, ini orang Yahudi, kemari dan bunuhlah dia!”

Bukhari, Volume 4, Buku 56, Nomor 791

Ketika prasangka buruk terhadap umat lain sudah tertanam, ketika orang justru diramalkan akan melakukan aksi peperangan, maka tidak heran dengan tambahan ayat perang, orang kemudian cenderung melakukan aksi kekerasan atas nama agama.

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah Dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

At Taubah ayat 29

Memang tidak semua muslim meyakini ayat dan hadits tersebut sebagai ajaran kebencian dan peperangan. Asbabun nuzul, nafwu, shorof, balaghah, dan berbagai istilah yang tidak saya mengerti dalam metode tafsir ayat pun disampaikan untuk menjelaskan bahwa makna dari dalil tersebut bukan seperti apa yang ditulis secara literal atau dalam terjemahannya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa pada umumnya orang akan lebih mudah menerima penjelasan yang sederhana daripada penjelasan yang panjang dan rumit.

Adalah sangat wajar jika ada orang yang memahami “bunuh” sebagai aksi pencabutan nyawa ketimbang memahaminya sebagai kegiatan tolong menolong. Adalah sangat wajar ketika orang memahami kata “benci” sebagai sikap permusuhan daripada memahaminya sebagai kasih sayang. Karenanya tidak heran jika agama seringkali bukan muncul sebagai alat untuk mempersatukan manusia, melainkan justru sebagai penyebab terjadinya konflik.

Yang paling berbahaya adalah ketika agama kemudian dijadikan alat politik, dimana tafsir terhadap dalil memang sengaja diarahkan sedemikian rupa hingga pengikut agama itu membenci lawan politiknya dan membenarkan serangan politik yang dia lakukan termasuk serangan fisik berupa peperangan. Contoh nyata dari kasus ini adalah perang salib, dimana para penguasa Eropa memanfaatkan agama untuk mengobarkan rasa permusuhan terhadap muslim sehingga rakyatnya mau diajak berperang, padahal tujuannya ya cuma penjajahan, harta dan kekuasaan.

Ilustrasi Perang Salib

9. Tuhan Tidak Perlu Dibela

Ketika Peekay mengkritisi konsep ketuhanan Tapasvi Maharaj dengan mengatakan  bahwa ajarannya keliru, tuhannya adalah tuhan palsu dan hasil karang-karangan saja, Tapasvi kemudian mengancam Peekay, dia mengatakan bahwa pengikutnya tidak akan diam atas apa yang dia anggap sebagai penghinaan itu. Mungkin pengikutnya akan menembak pantat Peekay seperti yang pernah mereka lakukan pada Cherry Bajwa (Bosnya Jaggu).

Menanggapi hal itu Peekay kemudian menjelaskan betapa kecilnya manusia dibanding alam semesta. Jika alam semesta adalah benar ciptaan tuhan, maka manusia tidak ada apa-apanya dibanding tuhan. Lantas, mengapa manusia yang tidak ada apa-apanya  merasa tuhan perlu pembelaan dari manusia?

Manusia Terlalu Kecil Untuk Membela Tuhan

Bicara soal pelecehan, kita mesti sadar bahwa pelecehan itu sifatnya sangat subjektif, ada orang yang tersenyum ketika dibilang bodoh, ada yang marah hanya karena dipelototi (biasanya preman), ada orang yang senyum ketika tokoh agamanya dibuat karikatur, ada yang marah dan merasa dihina bahkan ketika agamanya dikritik dalam bahasa yang sopan.

Mungkin sebagian anda juga marah membaca tulisan saya ini, marah saat menonton film PK, marah ketika agama anda dianggap konyol, tidak logis, dan tidak sesuai zaman. Tapi sebelum kita marah, sebelum kita berteriak membela agama, sebelum ngamuk-ngamuk, pikirkan lah apakah tuhan ingin kita membelanya dengan cara seperti itu? Jika tuhan memang marah pada orang menghina-Nya dan agama-Nya, bukankah tuhan bisa menurunkan hukuman sendiri untuk orang tersebut?

Kita kadang terlalu arogan, merasa bahwa kita lebih pantas menghakimi manusia lain ketika bicara mengenai agama ketimbang tuhan itu sendiri, seolah-olah dirinya adalah perpanjangan tangan tahun. Mirisnya, tindakan penghakiman itu seringkali dilakukan dengan aksi kekerasan. Mengaku menegakkan hukum tuhan tapi dengan merusak fasilitas umum, mengaku meluruskan orang sesat tapi dengan cara membunuh, membela agama yang dilecehkan dengan terorisme.

Para Pembela Tuhan dan Agama

Kesimpulan

Dari semua poin kritik terhadap agama yang saya tangkap, saya bisa menyimpulkan bahwa pesan yang ingin disampaikan oleh film PK ini adalah bahwa:

Bertuhan itu baik, tapi jangan pernah melupakan akal dan hati nurani dalam beragama karena selalu ada kemungkinan tokoh agama untuk salah menafsirkan ajaran, dan selalu ada kemungkinan orang jahat untuk memanfaatkan agama demi kepentingannya.

Manusia lahir dibekali dengan otak oleh tuhan, bukan dengan kitab suci, bukan dengan kitab tafsir, maka semestinya dengan akal lah kita menilai mana ajaran yang pantas kita ikuti dan mana yang tidak. Kita tidak mesti ikut pemahaman yang mainstream (dianggap umum) jika hal itu tidak sesuai dengan hati nurani kita.

 

Sumber :

http://candrawiguna.com/kritik-film-pk-terhadap-agama/

1 Comment

Leave a Reply