Kandy (Maha nuwara) The Hill Country

Setelah menghabiskan waku 2 malam di Hikkaduwa dengan pantainya yang mempesona siapapun yang berkunjung kesana, pagi-pagi tanggal 29 Desember 2015 kami telah meninggalkan Hikkaduwa menuju Kolombo dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Kandy.

Perjalanan Hikkaduwa ke Kolombo menghabiskan waktu sekitar 3 jam, trafik yang lumayan padat serta bus yang kerap berhenti untuk menaik turunkan penumpang membuat perjalanan berjalan sangat lambat sekali. Sekitar pukul 11.30 kami sampai di Kolombo, yang rencananya turun di depan Colombo Fort, tetapi karena padatnya penumpang didalam bus yang menghambat pergerakan kami untuk turun dan bus tidak bisa menunggu lagi dan dilanjutkan ke terminal bus yang berjarak sekitar 1 km dari Kolombo Fort.

Bergegas kami menuju ke Kolombo Fort untuk mengejar kereta api yang akan menuju ke Kandy, sesampainya kami di Kolombo Fort lagi-lagi dihadapkan dengan masalah-masalah yang tidak terduga, dikarenakan adanya tanah longsor di daerah Kandy menyebabkan jadwal kereta api menuju Kandy di batalkan untuk beberapa hari kedepan.

Kami mencoba bertanya dengan petugas yang bertugas di bagian Informasi, kami disarankan naik bus saja menuju ke Kandy, untuk naik bus kami harus menuju ke Maning Market yang berjarak sekitar 1 km dari Kolombo Fort, mengingat perjalanan nanti yang lumayan lama kami putuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu, di sepanjang jalan menuju Kolombo Fort banyak ditemui kedai yang menjual makanan, berbagai ragam makanan lokal Sri Lanka tersedia disana.

Suasana terminal lumayan ramai siang itu, kami harus bertanya sana sini untuk mencari bus yang tepat untuk menuju Kandy, terminal bus terdiri dari berbagai platform sesuai dengan tujuannya masing-masing, di terminal ini kita dapat berpergian ke berbagai kota di Sri Lanka

Terminal di Maning Market

Credit foto : http://www.kaskus.co.id/thread/50979bdf48ba54a24c0000a4/trip-report-jalan2-ke-sri-lanka-dan-maldives-dengan-quotendingquot-yang-tidak-disangka/

Kami menumpang bus dengan AC yang membawa kami selama 6 jam menuju Kandy, perjalanan tidak begitu terasa karena kita akan disuguhi pemandangan pegunungan, sebenarnya perjalanan ke Kandy ini akan terasa sangat spesial jika dilakukan dengan perjalanan menggunakan kereta api.

Memasuki kota Kandy, kami disambut hujan yang lumayan deras. Dengan menumpang tuk-tuk kami menuju ke Spica Guest House yang baru dipesan malam sebelumnya, Spica Guest House terletak agak jauh atau sekitar 1,5 km dari kota dan terletak diatas bukit. Kami disambut oleh Sintaka, anak dari pemilik Spica Guest House. Spica Guest House di miliki oleh pensiunan perwira AL Sri Lanka, mereka mengelola Guest House tersebut dengan sangat bagus sekali.

Kandy

Spica Guest House, tempat kami menginap selama di Kandy

Sintaka menawarkan kami untuk makan malam dengan menu makanan lokal khas Sri Lanka, untuk 3 macam menu kami di charge 500 Rupee per orang atau sekitar Rp. 50.000,- kami rasa harga dan rasa makanan tersebut sangat worth it, menu makan malam kami disajikan fish curry, tumis sayur, scramble egg dan nasi dari beras samba yang telah terkenal di Sri Lanka. Karena kelaparan dan juga sudah lelah perjalanan panjang kami tidak sempat lagi mendokumentasikan lagi makan malam kami tersebut.

Malam itu kami menghabiskan waktu dengan berbincang dengan Sintaka, kemudian dilanjutkan dengan Tillek orang tua Sintaka, yang sepanjang karirnya dihabiskan di Oman, beliau banyak menceritakan kisah-kisah masa mudanya, pengalaman-pengalaman sebagai Marine dan bagaimana dia dan istrinya membangun rumah besar yang kemudian di transformasi menjadi sebuah Guest House.

Kandy

Suasana dalam Spica Guest House

Pagi harinya kami mencoba bertanya kepada Sintaka tentang permata Sri Lanka yang sudah terkenal, dia dengan semangat menjelaskan kepada kami perihal permata-permata yang menjadi komoditas Sri Lanka yang salah satunya adalah Blue Saphire, beliau menawarkan kepada kami untuk berkunjung ke toko temannya di kota, toko permata yang sekaligus mengelola Gem Museum, kami pikir boleh juga sambil melihat-lihat permata khas Sri Lanka. Sintaka kemudian menelepon kawannya untuk kemudian menjemput kami di Spica Guest House kemudian mengantar kami ke tokonya.

Jadilah kami menghabiskan 1/2 hari berkeliling gem museum yang dilanjutkan dengan memilih-milih blue saphire di toko tersebut, niat awal yang tidak mau membeli menjadi akhirnya si Ahseng membeli 2 butir blue saphire dengan harga USD 250 (hahaha, ntah kemahalan atau ngk ya)

Gem Museum Kandy

Koleksi Permata

Capek negosiasi harga permata yang dibeli akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Temple of the Sacred Tooth Relic, awalnya semangat 45 untuk berjalan kaki menuju kesana, yang kalo dari GPS yang kami lihat sekitar 4 km dari lokasi toko permata, tetapi lagi-lagi hujan menghentikan niat kami menikmati suasana Kandy dengan berjalan kaki, kami putuskan untuk menumpang tuk-tuk saja menuju kesana.

Tidak berapa lama, kami telah diantar oleh tuk-tuk hingga kedepan pintu masuk ke Temple of the Sacred Tooth Relic, Kuil ini dikelilingi oleh Danau Kandy yang menjadi tempat nongkrong bagi masyarakat Kandy, selain itu kuil tersebut juga ramai dikunjungi oleh warga lokal yang ingin bersembahyang. Tiket masuk kami tebus dengan harga 1000 Rupee, dengan harga tersebut kami diberikan DVD dokumentasi mengenai kuil tersebut.

Sebelum memasuki kuil, setiap pengunjung harus menanggalkan alas kaki dan lagi-lagi disediakan tempat penitipan dengan harga 100 Rupee, usai menitipkan alas kaki kami melangkahkan kaki menuju ke dalam kuil.

 

karnadi lim

karnadi lim

Founder at KarnadiLim.com
Penggiat dunia pendidikan yang juga jatuh cinta pada traveling dan fotografi. Kerap menghabiskan waktu libur dengan berpetualang ke berbagai tempat yang eksotis dan kota tua serta UNESCO heritage site menjadi spot wajib dalam petualangannya. Karyanya terangkum apik di www.karnadilim.com
karnadi lim

Latest posts by karnadi lim (see all)