Malam Imlek 2016 Di Vihara Avalokitesvara P.Siantar

Hujan deras mengguyur kota Pematang Siantar (P.Siantar) hampir sepanjang hari menjelang malam Imlek 2016 / 2567 atau lebih dikenal dengan “Sa Cap Me” (tanggal 30 di bulan terakhir dan tanggal akhir). Dimana malam tersebut adalah malam makan bersama, berkumpul keluarga merupakan hal yang wajib dalam budaya dan tradisi Tionghoa.  Salah satu tradisi yang masih diikuti sampai saat ini, walaupun disana sini telah terjadi berbagai degradasi. Misalnya tidak lagi makan dirumah, tapi di restoran, dengan alasan supaya tidak merepotkan masak dirumah. Ada juga kehadiran keluarganya yang tidak lengkap karena alasan tidak dapat meninggalkan pekerjaan dan atau sebab lainnya. [pullquote align=”right” cite=”” link=”” color=”” class=”” size=””]Degradasi tradisi ini biasanya akan tergerus oleh perkembangan jaman, modernisasi, pola hidup dan lingkungan sekitar[/pullquote]

Kota P.Siantar, salah satu kota besar di provinsi Sumatera Utara juga menghasilkan banyak perantauan ke kota lainnya. Sehingga disaat menjelang Imlek, banyak masyarakat Tionghoa nya yang kembali ke kampung halaman untuk merayakan Imlek bersama keluarga. Walaupun hujan terus mengguyur, tidak menyurut semangat umatnya untuk melakukan ritual sembahyang di vihara setelah acara makan malam bersama. Vihara Avalokitesvara merupakan salah satu vihara terbesar dan tertua di kota P.Siantar, akan ramai dikunjungi oleh umatnya. Vihara ini juga dikenal dikenal sebagai salah satu ikon wisata dikota ini dengan patung Kwan Im yang tertinggi (22,8 m) di Asia Tenggara dan pernah mendapatkan rekor MURI (Musium Rekor Indonesia) sebagai patung tertinggi di Indonesia . Diresmikan tanggal 15 Nopember 2005 setelah proses pembangunannya memakan waktu tiga tahun.

Lokasi Vihara ini terbagi atas 3 bagian, tempat ibadah (gedung lama), bagian tengah adalah gedung sekolah dengan aulanya. Bagian terakhir adalah letak patung Kwan Im tertinggi dan lantai bawahnya juga ada aula yang dapat digunakan untuk tempat ibadah. Patung Kwan Im dikelilingi Catur Mahadewa raja atau malaikat pencatat kebaikan dan keburukan. Di kompleks catur terdapat sebuah lonceng besar dan sebuah roda (praying whell). Dihalaman bawah ada 33 patung Kwan Im ukuran kecil mengelilingi patung raksasa ini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Imlek tahun 2016 atau tahun 2567 dalam penanggalan Lunar dan tahun monyet api, disambut dengan antusias oleh masyarakat Tionghoa, walaupun dalam kondisi perekonomian yang kurang baik. Dari pengamatan penulis di lokasi mulai dari pukul 21.30 wib sampai pukul 24.45 wib, tidak terjadi penumpukan umat yang hadir. Mereka datang bergantian di jam yang berbeda, sehingga tidak kepadatan yang berarti. Sebelum jam 12 malam, jumlah umat yang hadir tidak terlalu banyak. Beda dengan menjelang jam 12 malam baru mulai banyak yang berdatangan. Lampion, hio dan lilin berbaur didalam ruangan maupun diluar.

Kegiatan ibadah bersama dipimpin oleh Bhiksu Ditya Jaya (Yong Cen) sebagai pimpinan tertinggi di vihara dan diakhiri dengan mumukul lonceng besar setelah berjalan menuju dan mengitari kompleks patung Kwan Im. Tepat pukul 12 malam lonceng pun dibunyikan dengan menggunakan cara lama yang didorong dengan sebuah kayu yang tergantung, seperti yang kita saksikan di film-film kungfu Shaolin.

Hadir dalam ibadah tersebut salah satu tokoh masyarakat Tionghua dan juga ketua Walubi P.Siantar, Oei Ik Han (Hansen). Beliau berujar bahwa semoga di tahun baru ini Negara kita diberkahi dengan keamanan dan kestabilan ekonomi, sehingga masyarakat dapat memperoleh kehidupan yang baik serta ketentraman. Untuk itu diharapkan kita semua dapat lebih banyak berbuat Karma baik agar dapat berbuat kebaikan juga. Beliau juga berharap semua kegiatan ibadah Imlek dapat berjalan dengan lancar dan tertib.

[pullquote align=”left” cite=”” link=”” color=”” class=”” size=””]Hampir setiap tahun kami hadir untuk meliput kegiatan malam Imlek disini dan tahun inilah yang tergolong kalah ramai dengan tahun-tahun sebelumnya[/pullquote] Tahun-tahun sebelumnya lokasi ini merupakan tempat berkumpulnya anak-anak muda Siantar, namun karena 2 tahun terakhir ini tidak diperkenankan lagi melepas lampion terbang, menjadikan areal ini tidak seramai lagi dengan tahun-tahun sebelumnya. Karena tidak ada aktivitas, hanya tempat kumpul semata setelah sembahyang bagi yang ada sembahyang.

Biksu Memimpin Pembacaan Paritta

Biksu Memimpin Pembacaan Paritta

Khusuk Beribadah memohon Berkat

Khusuk Beribadah memohon Berkat

Bhiksu Ditya Jaya (Yong Cen)

Bhiksu Ditya Jaya (Yong Cen)

Pemasangan Pelita Imlek

Pemasangan Pelita Imlek

Menyalakan Dupa

Menyalakan Dupa

Memohon Berkat di Tahun Monyet Api

Memohon Berkat di Tahun Monyet Api

Membaca Paritta

Membaca Paritta

 

About Contributor :

petrus-loo
Petrus Loo

 

Petrus Loo, seorang Fotografer yang sudah malang melintang di dunia Fotografi Sumatera Utara dan Indonesia,  mengeluti dunia foto sejak SMA, banyak mengikuti berbagai lomba foto, karyanya apik di susun di website yang dikemas menjadi galeri Profesional Stock Photo. Petrus Loo saat ini aktif dalam Toba Photographer Club, Medan. Saat ini Petrus akan berbagi cerita dan pengalaman saat imlek di Pematang Siantar untuk www.KarnadiLim.com

Facebook || Instagram ||Website

Petrus Loo

Petrus Loo

Petrus Loo, seorang Fotografer yang sudah malang melintang di dunia Fotografi Sumatera Utara dan Indonesia,mengeluti dunia foto sejak SMA, banyak mengikuti berbagai lomba foto, karyanya apik di susun di website yang dikemas menjadi galeri Profesional Stock Photo. Petrus Loo saat ini aktif dalam Toba Photographer Club, Medan. Kunjungi websitenya di www.petrusloo.com
Petrus Loo

Leave a Reply