Menapaki Gunung Pusuk Buhit

View Danau Toba dari Pusuk Buhit
[pullquote align=”right” cite=”” link=”” color=”” class=”” size=””]“We travel not to escape life, but for life not to escape us.” – Anonymous[/pullquote]

Pusuk Buhit merupakan salah satu dari rangkaian gunung Super Volcano Toba yang berada di Pangururan Pulau Samosir Sumatera Utara. Menurut cerita lokal, Pusuk Buhit dipercaya tempat asal mula orang batak. Jadi, nenek moyang orang Batak berasal dari Pusuk Buhit. Pusuk Buhit, adalah gunung yang awalnya bernama Gunung Toba Purba memiliki ketinggian 1.500 meter lebih dari permukaan laut dan 1.077 meter dari permukaan Danau Toba.

Danau Toba yang tenang dengan Gunung Pusuk Buhit sebagai Latar Belakang

Pusuk Buhit dilihat dari Desa Sihotang dengan Danau Toba yang tenang

Jeruk purut, Sirih dan Telur Ayam Kampung merupakan hal yang sering kami temukan dalam perjalanan kami mendaki puncak Pusuk Buhit. Ya… kami sedang mendaki gunung yang dianggap sakral oleh orang Batak, beberapa barang tersebut merupakan hal yang wajib di bawa bagi orang yang berziarah ke puncaknya. Bau mistis akan terasa buat setiap orang yang mendakinya.

Bermula dari menyusun rencana mengisi liburan imlek tahun 2016, akhirnya Aku, Winra Junus, Sisi You dan Titin memutuskan untuk traveling murah mendaki gunung Pusuk Buhit yang sudah dari dulu kami dengar namanya bagi kami bertiga ini pertama kali mendaki gunung tersebut, ini merupakan pengalaman kedua buat Titin mendaki gunung tersebut.

Hujan dari pagi hari sepertinya menjadi pengantar memasuki tahun Monyet Api, yaaa benar, dari tengah malam hari Minggu hingga malam hari Senin (che it) hujan turun tidak henti-hentinya, menurut banyak orang hujan berkat di tahun baru, Monyet Api tidak kuasa menahan gempuran air hujan diawal tahun dan mudah-mudahan hujan di awal tahun menjadi petanda baik supaya si Monyet tidak lasak sepanjang tahun hehehe.

Perjalanan dari Medan menuju Dataran Tinggi Tele harus kami tempuh selama 6 jam, jalanan yang licin karena hujan serta kabut tebal yang menyambut kami dalam perjalanan menuju Tele membuat kami harus ekstra hati-hati, karena kami memasuki jalanan yang berkelok-kelok serta minim pembatas jalan. Pukul 02.00 dini hari kami sampai ke Menara Pandang Tele, segera kami pasang tenda dan beristirahat.

Camping di Tele

Camping di Tele

[pullquote align=”full” cite=”” link=”” color=”” class=”” size=””]Konon Siboru Deak Parujar turun dari langit. Dia terpaksa meninggalkan kahyangan karena tidak suka dijodohkan dengan Siraja Odap-odap. Padahal mereka berdua sama-sama keturunan dewa. Dengan alat tenun dan benangnya, Siboru Deak Parujar yakin menemukan suatu tempat persembunyian di benua bawah.[/pullquote]

Jam masih menunjukkan pukul 05.30 pagi, tetapi kami semua sudah terbangun. Suasana di seputaran menara pandang Tele sangat berkabut dan berangin, angin dingin yang menggoyang tenda kami itulah yang membuat kami terjaga dan memutuskan melangkahkan kaki keluar dari tenda. Sisa hujan kemarin dan embun menyambut pagi kami, tidak banyak yang bisa kami lakukan pagi itu karena cuaca sedang berkabut.

Cuaca berkabut di Menara Pandang Tele

Cuaca berkabut di Menara Pandang Tele

Menikmati sarapan pagi di Menara Tele

Menikmati sarapan pagi di Menara Tele

[pullquote align=”full” cite=”” link=”” color=”” class=”” size=””]Alhasil, dia tetap terpaksa minta bantuan melalui burung-suruhan Sileang-leang Mandi agar Dewata Mulajadi Nabolon berkenan mengirimkan sekepul tanah untuk ditekuk dan dijadikan tempatnya berpijak. Namun sampai beberapa kali kepul tanah itu ditekuk-tekuk, tempat pijakan itu selalu diganggu oleh Naga Padoha Niaji. Raksasa ini sama jelek dan tertariknya dengan Siraja Odap-odap melihat kecantikan Siboru Deak Parujar.[/pullquote]

Perjalanan menapaki Gunung Pusuk Buhit kami mulai dari Perkampungan Si Raja Batak yang di tempat tersebut juga sudah di bangun Pusat Informasi Geopark Toba sebagai salah satu “proyek gagal” untuk menempatkan Kaldera Toba sebagai Geopark UNESCO.

Mendaki Pusuk Buhit sebenarnya bukan pekerjaan yang sangat sulit, jalan-jalannya telah ada dan rata serta menanjak, karena jalannya memutari gunung, maka oleh penduduk setempat di buatlah shortcut (jalan lintas) karena mau menghemat waktu kami memotong dengan menggunakan jalan pintas tersebut. Sebenarnya jalan pintas tersebut yang membuat adrenalin terpacu karena terjal juga licin karena hujan.

Tanjakan Mendaki

Tanjakan Mendaki Gunung Pusuk Buhit

Setelah melewati tanjakan demi tanjakan yang kami beri nama “Tanjakan Cinta” karena terjalnya luar biasa serta licin dan melewati ladang-ladang kopi, sampailah kami ke savanah luas yang dilengkapi dengan helipad, tapi sayangnya di tempat itu sekarang penuh dengan sampah, ulah para pendaki gunung yang “kekinian” yang ngakunya pecinta alam tapi ternyata meninggalkan sampah untuk alam.

Helipad yang penuh dengan sampah

Helipad yang penuh dengan sampah

Menjelang ke puncak, secara perlahan kabut menyingkir dari pandangan kami dan secara tiba-tiba di sebelah kiri kami muncul pemadangan Danau Toba yang cantik, segala rasa capek hilang seketika dan takjub. Tercapai sudah memandang Danau Toba dari sisi Pusuk Buhit. Selama ini kami hanya melihat Pusuk Buhit berdiri megah dengan hamparan Danau Toba dibawahnya.

Akhirnya Siboru Deak Parujar mengambil siasat dengan makan sirih. Warna sirih Siboru Deak Parujar kemudian semakin menawan Naga Padoha Niaji. Dia mau tangannya diikat asal yang membuat merah bibir itu dapat dibagi kepadanya. Namun setelah kedua tangan berkenan diikat dengan tali pandan, Siboru Deak Parujar tidak memberikan sirih itu sama sekali dan membiarkan Naga Padoha Niaji meronta-ronta sampai lelah.

View Danau Toba dari Pusuk Buhit

View Danau Toba dari Pusuk Buhit

Supaya terlihat "kekinian" photo selphie diatas puncak Pusuk Buhit

Supaya terlihat “kekinian” photo selphie diatas puncak Pusuk Buhit

Bumi yang diciptakan oleh Siboru Deak Parujar terkadang harus diguncang gempa. Gempa itulah hasil perilaku Naga Padoha Niaji. Namun ketika guncangan itu mereda Siboru Deak Parujar mulai merasa kesepian dan mencari teman untuk bercengkerama. Tanpa diduga dan mengejutkan, diapun bertemu dengan Siraja Odap-Odap dan sepakat menjadi suami-istri yang melahirkan pasangan manusia pertama di bumi dengan nama Raja Ihat dan Itam Manisia. Pasangan manusia pertama inilah yang menurunkan Siraja Batak sebagai generasi keenam dan menjadi leluhur genealogis orang Batak (http://www.tanobatak.wordpress.com)”

Setelah puas menikmati pemandangan danau toba dari atas puncak Pusuk Buhit, kami pun bergegas untuk turun. Sungguh suatu anugerah terbesar dari Tuhan bagi orang Batak, Negeri Indah Kepingan Surga, sungguh beruntung mereka itu. Namun sayang keindahan yang ada tidak dijaga dengan baik, hutan yang digunduli, air yang dicemari, infrastuktur dan kepedulian warga lokal menjadikan Danau Toba semakin terluka. Selama dalam perjalanan turun ke kaki gunung kami banyak menjumpai tempat-tempat yang dikeramatkan, soalnya banyak terdapat sesajen ditempat tersebut.

Kami menemukan jalan shortcut/ jalan pintas yang membuat kami lebih cepat turun dan sesaat terkadang berhenti untuk beristirahat sekaligus menikmati pemandangan yang sangat indah itu. Tetapi ternyata jalan pintas yang kami lalui itu terlalu terjal dan ekstrim menjadikan perjalanan turun tidak lebih cepat dari jalan biasanya. Yah, begitulah hidup selalu penuh dengan pilihan.

Selphie supaya terlihat Kekinian

Selphie supaya terlihat Kekinian

Leave a Reply