Menapaki Salju di Yulong Xue Shan

“Perjalanan ke “Surga” tidak pernah melewati jalan yang mulus, kita harus dihadapkan dengan berbagai rintangan dan halangan sebelum akhirnya kita diberikan kesempatan menikmati keindahan “Surga” tersebut” – Karnadi Lim

Kira-kira pada tahun 2012 yang lalu, seorang teman yang kebetulan sedang mengunjungi Tiongkok mengirimkan sebuah post card dari Lijiang, dan menceritakan keindahan dan keunikan Kota Tua Lijiang, keindahan foto dan keunikan budaya disana terus menerus hadir dalam anganku, pada akhirnya di akhir tahun 2013 giliran saya merasakan traveling murah ke Tiongkok, ini merupakan kali pertama saya menjejakkan kaki ke Tiongkok dan tujuan saya adalah kota Kunming sebagai gerbang masuk ke Lijiang.

Perjalanan ke Tiongkok bukanlah jalan yang mulus kami lalui, penerbangan kami dari Kuala Lumpur dengan menumpang Low Cost Airline harus di alihkan ke kota Nanning, karena saat itu Kunming sedang di landa cuaca buruk sehingga pesawat tidak dapat mendarat, penerbangan keesokharinya juga tidak mulus, kami telah menunggu sejak pukul 09.00 ternyata cuaca buruk belum pindah dari Kunming, kami sempat duduk dan menyusun rencana B jikalau hari ini tidak dapat terbang ke Kunming, Kereta Api menjadi salah satu pilihan kami melanjutkan perjalanan dari Nanning ke Kunming.

Ternyata keberuntungan berada di pihak kami, pukul 15.00 panggilan dari airlines supaya kami segera naik pesawat, karena kita akan segera melanjutkan perjalanan ke Kunming. Perjalanan menempuh waktu selama 1 jam, pukul 16.00 kami mendarat di Kunming Wujiaba International Airport, angin dingin langsung menerpa muka ketika keluar dari pesawat, ya saat ini kami telah berada di Kunming yang di juluki City of Eternal Spring

Tidak mau menyia-nyiakan waktu, kami berempat langsung menuju peron bus untuk membeli tiket menuju stasiun kereta api, kemudian melanjutkan perjalanan ke Lijiang dengan menumpang kereta api malam yang kami tebus seharga 153 Yuan untuk kelas Hard Sleeper. Karena keterlambatan kami sampai di Kunming akhirnya kami skip berkunjung ke Dali.

Perjalanan selanjutnya dari rangkaian perjalanan kami di Lijiang adalah mengunjungi Yulong Xue Shan yang biasa di kenal dengan nama Jade Dragon Snow Mountain yang kalo di artikan secara Indonesia menjadi Gunung Salju Naga Giok.

Setelah mengelilingi Old Town Lijiang sehari sebelumnya serta melihat Yulong Xue Shan dari Black Dragon Pool, hari ini kami dijemput oleh supir mini van yang kami pesan malam sebelumnya, Mama Naxi (pemilik guest house) berulang-ulang memperingatkan kami bahwa jika nanti ada peringatan angin kencang disana agar kami mengurungkan niat untuk naik keatas. Bulan Desember Lijiang memang sedang dilanda angin kencang. Kami hanya bisa berharap cuaca dapat berpihak kepada kami.

Keluar dari Old Town Lijiang, supir van membawa kami untuk sarapan di warung terdekat dan lagi-lagi hari ini kami mengawalinya dengan nasi goreng, hal yang paling sederhana yang mudah didapat dan juga sesuai dengan perut kami. Setelah sarapan kami melanjutkan perjalanan, sepanjang perjalanan ke sana cuaca sangat cerah dan sepertinya aman untuk naik ke level tertinggi yaitu ke ketinggian 4680 m.

Tiba di lokasi kami harus membayar tiket masuk ke national park sebesar 105 Yuan dan juga transportasi bus sebesar 20 Yuan dengan total 125 Yuan. Setelah tiba di shelter parkir kami menuju loket cable car untuk membeli tiket seharga 180 Yuan. Kemudian di transfer ke lokasi cable car dengan bus.

Penampakan salju di sepanjang perjalanan membuat kami tidak sabar lagi untuk segera sampai diatas, setelah menempuh perjalanan selama 30 menit dan mencapai ketinggian 4506 m kami harus melanjutkan perjalanan ke ketinggian 4680 m dengan jalan kaki mendaki anak tangga satu persatu hingga ke puncak.

Mendaki 174 m bukanlah pekerjaan yang berat, tetapi di Yulong Xue Shan yang kondisi suhunya mencapai 0 derajat dengan kadar oksigen 50% menjadikan perjalanan 174 m rasanya berkilo-kilo jauhnya. Oksigen yang tipis serta rasa dingin yang mengigit menjadikan treking ini cukup berat, setiap menapaki 3-4 anak tangga kami harus beristirahat sejenak makin naik keatas Altitute Sickness makin terasa, kepala puyeng, nafas berat (semua ini karena aksi nekad kami tidak membeli oksigen portable, penghematan 68 Yuan membuat kami cukup kesusahan mendaki naik :D)

Setelah berjalan sekitar 40 menit akhirnya berhasil juga mencapai puncak dari Yulong Glacier di ketinggian 4680 mdpl. Walau ini bukan puncak tertinggi (5596 mdpl) tapi kami telah berhasil mencapai puncak tertinggi yang pernah kami capai seumur hidup, ketinggian gunung yang pernah di daki hanya sekitar 2000an mdpl.

Hamparan salju abadi di gugusan pegunungan Himalaya menjadi salah keistimewaan dari Yulong Xue Shan, selain daripada ini di national park yulong xue shan masi terdapat beberapa tempat yang di kunjungi, yang populer adalah Dry Sea Meadow, Cloud Fir Meadow, dan Yak Meadow. Karena keterbatasan waktu, kami terpaksa tidak mengunjungi tempat-tempat tersebut.

Karena keasikan menikmati suasana di atas Yue Long Xue Shan, tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 15.00 kami harus segera melanjutkan perjalanan ke Blue Moon Valley yang terletak di bawah kaki gunung Yulong, bergegas kami mencari tumpangan cable car untuk segera sampai ke bawah.

Perjalanan menggunakan cable car memakan waktu selama 20 menit, setibanya kami di shelter bus secepatnya mencari mobil yang membawa kami dari Lijiang ke Yulong, sambil menunjukkan foto White Water Terrace kepada supir, akhirnya kami dibawa menuju bus shelter yang tidak jauh dari sana. Ternyata tiket 20 Yuan yang kami bayarkan di awal masuk itu adalah dipergunakan untuk bus tersebut.

Perjalanan dari Shelter Bus ke Blue Moon Valley ternyata cukup jauh juga, 25 menit melalui jalanan berliku dan juga menurun dan finally kami sampai di tempat parkir Electric Car dan ternyata kami harus membayar 50 Yuan untuk naik electric car tersebut, tetapi karena waktu yang tersisa sudah sangat sedikit, mau ngak mau kami harus menggunakan electric car tersebut.

Dengan ditemani oleh supir yang membawa kami tersebut kami menyusuri Blue Moon Valley dengan latar belakang Yulong Xue Shan dan matahari yang hampir terbenam. Waktu yang disediakan bagi kami sangat terbatas, selain tidak bisa terlalu menikmati suasana disana juga disebabkan ramainya orang berlalu lalang di atas lantai kayu tempat watching dock.

Blue Moon Valley sebenarnya sangat luas dan menyimpan keindahannya yang khas. Di Blue Moon Valley sendiri berawal dari White Water Terrace dan airnya mengalir ke 4 Danau terdiri dari Tingtao Lake, Langyue Lake, Jingtan Lake dan Yuye Lake.

Supir kami dan juga supir Electric Car asik2 memanggil kami supaya cepat karena ternyata bus terakhir yang berangkat adalah pukul 17.00 sedangkan kami masi setengah perjalanan di Blue Moon Valley ke Shelter Bus. Beberapa pengunjung mengomel kepada supir karena waktu yang disediakan sangat terbatas sekali.

Dengan perjalanan yang terburu-buru selain tidak bisa menikmati keindahan alam nya juga kita tidak bisa lebih eksplor daerahnya, dengan sedikit kecewa akhirnya kami mengakhiri trip tersebut dan balik ke shelter bus.

Kami sempat mampir ke desa Baisha yang terletak dikaki Jade Dragon Snow Mountain atau 8 km dari utara Lijiang Old Town. Baisha adalah salah satu desa tertua di Lijiang. Suasana desa dihiasi bangunan-bangunan kayu yang sudah termakan waktu serta gedung-gedung tua berwarna abu-abu kusam dengan cat sudah mulai terkelupas, satu yang terlihat baru yaitu jalan kecil yang baru saja diperbaiki. Terlihat dipojokan ada beberapa orang tua yang berkumpul sedang bermain mahyong di sudut jalan.

“Baisha” berarti “pasir putih” dan itu mendapat namanya dari pasir putih alam di daerah tersebut. Suasana desa yang terlihat sangat santai. Ibu-ibu sambil menunggu dagangannya terlihat bercengkrama dengan tetangganya saat melintas. Desa ini unik dan masih tradisional, terlihat para wanitanya masih menggunakan pakaian khas Naxi.

Menikmati suasana di kota tua ini, ada rasa kenikmatan sendiri, kita seperti melompati waktu, dengan melihat sekeliling bangunan, masyarakat yang umumnya para orangtua dan segala pernak-pernik yang ditawarkan para pedagang barang antik di sepajang jalan Baisha, serasa berada di era dinasti Ming.

Kembali kami di panggil untuk cepat oleh supir yang mengantar kami, sepertinya semua orang di Tiongkok ini sangat tidak sabaran dan terburu-buru, sedangkan kami mencoba menikmati segalanya dengan tenang dan santai. Setelah sampai di mobil ternyata supirnya sedikit mengomel karena jam kerjanya sampai jam 17.00 tapi saat ini sekitar jam 18.30 masih terus kerja, sepanjang jalan pulang kami semua dia seribu bahasa.

Karena malam ini, adalah malam terakhir di Lijiang kami menyempatkan diri untuk menikmati Lijiang Old Town di kala malam, ternyata suasana tidak jauh berbeda dengan pagi atau siang, yang membedakan hanya keindahan lampu yang menghiasi setiap bangunan yang ada.

 

karnadi lim

karnadi lim

Founder at KarnadiLim.com
Penggiat dunia pendidikan yang juga jatuh cinta pada traveling dan fotografi. Kerap menghabiskan waktu libur dengan berpetualang ke berbagai tempat yang eksotis dan kota tua serta UNESCO heritage site menjadi spot wajib dalam petualangannya. Karyanya terangkum apik di www.karnadilim.com
karnadi lim

2 Comments

  • hilda situmorang says:

    untuk ke jade dragon snow mountain dan blue moon valley bisa dalam 1 hari? kemaren sewa vannya kena berapa yah?

    • karnadi lim says:

      Untuk ke Yulong Xue Shan dan blue moon valley dapat di lakukan sekaligus dalam 1 hari, mengingat biaya masuk yang ngk murah, memang harus di habiskan 1 hari, saran saya jangan kelamaan diatas gunung, supaya terkejar yang di blue moon valley. kemarin itu kami kelamaan di atas gunung hingga jam 15.00 sore dan setelah itu turun kebawah, jadi waktunya agak rush, blue moon valley tutup jam 17.00.

Leave a Reply