Sigiriya Rock, Kota Diatas Batu Sri Lanka

Always do what you are afraid to do. -Raplh Waldo Emerson-

Pada kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman traveling murah dalam Petualangan ke Sri Lanka. Melanjutkan rangkaian perjalanan 10 di Sri Lanka, pada hari ini tanggal 31 Desember 2014 Perjalanan dari Kandy ke Sigiriya kami mulai dengan menumpang bus antar kota, perjalanan selama 2,5 jam kami tempuh dengan perasaan yang tak nyaman, ini di sebabkan cara mengemudi supir-supir bus disini sangat luar biasa, mereka seakan-akan tidak mengenal kata rem yang ada hanya tekan gas dan banting setir kiri kanan demikian seterusnya hingga akhirnya kami diturunkan di terminal bus Dambulla.

Dari stasiun bus Dambulla kami kembali menumpang bus menuju Sigiriya, sebenarnya jarak yang ditempuh lumayan singkat, tetapi konsep bus di mana-mana keknya sama saja, kami harus menunggu selama 30 menit lebih hingga bus penuh. Jarak yang bisa ditempuh 20 menit akhirnya molor hingga 1 jam kami baru mencapai Sigiriya.

Supir menurunkan kami tepat di pinggir jalan tempat penginapan yang telah kami pesan, tinggal jalan kaki memasuki lorong yang becek dan berdebu untuk sampai ke tempat. Kami menginap di Sigiriya Paradise Inn pemiliknya sangat baik sekali menyambut kami dan menjelaskan tentang Sigiriya.

Karena tidak ingin membuang waktu lagi, kami bergegas berangkat menuju ke Sigiriya Rock yang memang jalan masuknya telah nampak sewaktu melintas dengan bus, sewaktu kami sampai di persimpangan jalan masuknya kami menyempatkan bertanya ke penjaga kira-kira berapa jauh jarak ke dalam, penjaga dengan santai menjawab 500 meter.

Menuju Sigiriya Rock, Kota Diatas Batu

Kami memutuskan berjalan kaki melewati jalan dari tanah merah yang sangat becek disaat matahari berada diatas kepala, memang membutuhkan perjuangan keras hingga kedalam. Ternyata jaraknya lumayan jauh, kami menghabiskan waktu 30 menit untuk jalan hingga ke tempat pembelian tiket.

sigiriya rock

Jalan masuk ke sigiriya rock

Untungnya sesampainya didalam, suasana lumayan adem, karena di kelilingi oleh pohon-pohon dan juga taman-taman purbakalanya dengan sistem irigasi yang unik membuat kita betah berlama-lama disana. Setelah membeli tiket seharga USD 30 dan mendapatkan DVD kecil tentang Sigiriya dalam 6 bahasa. Ini merupakan tiket masuk objek wisata termahal di Sri Lanka.

sigiriya rock

Taman dan jalanan yang tedapat banyak pohon menuju ke sigiriya rock

sigiriya rock

Tiket masuk ke sigiriya rock

Dari kejauhan bukit batu setinggi 200 meter telah nampak, sebenarnya saya termasuk orang yang takut akan ketinggian, karena telah sampai ke sigiriya harus memaksakan diri untuk mendaki ke atas, secara ketinggian sih tidak seberapa, cuma yang terbayang adalah curamnya jalan dan sulitnya medan yang akan di lalui.

sigiriya rock

Sigiriya Rock dari kejauhan

Memasuki gerbang Sigiriya kita akan melewati sebuah kanal yang bentuknya masih terlihat jelas dan kita seakan-akan dibawa ke masa ribuan tahun silam ketika Sigiriya masih berupa sebuah kerajaan yang didirikan oleh Raja Kashyappan I ( 477 – 495 SM ). Di depan kanal terhampar taman yang merupakan bagian dari komplek istana raja. Raja Kashyappan I sendiri memiliki 2 komplek istana yaitu istana musim panas yang letakanya di bawah bukit batu serta istana musim dingin yang letaknya di puncak bukit batu Sigiriya.

Seperti kata pepatah, selalu lakukan apa yang Anda takut untuk lakukan. Mengumpulkan segenap keberanian akhirnya jalan menapak naik kita mulai dengan menapaki tangga yang diapit oleh 2 buah batu yang gede kemudian jalanan mendaki terus dan terus hingga kita sampai ditaman atas tempat untuk melepas lelah.

sigiriya rock

Jalan Masuk diapit batu besar

Untuk mencapai gerbang Lion’s Rock  hingga menuju puncak Sigiriya Rock tentunya kita harus mendaki menyusuri anak tangga yang telah disediakan. Memang harus siap stamina untuk menaiki anak tangga tersebut karena ada beberapa bagian anak tangga yang bentuknya nyaris tegak lurus dan sangat terjal untuk didaki yang tentunya sangat menguras tenaga.

Sigiriya Rock

Jalan Menuju ke atas

sigiriya rock

Jalan di punggung bukit

Perjalanan menyusuri puncak bukit Sigiriya diantaranya harus melewati sisi punggung bukit yang telah dipasang anak tangga yang dibuat secara manual. Saat itu angin berhembus sangat kencang di atas bukit sehingga tangga yang dipijak pun akan bergoyang. Hal inilah yang membuat perasaan makin deg-degan juga apalagi kondisi tangga sangat sempit dan harus dilalui 2 arah oleh para pengunjung.

sigiriya rock

Jalan diantara punggung bukit

Setelah menyusuri beberapa bagian anak tangga vertikal yang melingkar akhirnya tiba di salah satu gua yang sangat sempit dan di dalamnya terdapat galeri lukisan yang dibuat secara handmade pada langit-langit serta dinding gua. Raja pada masa itu memiliki 500 orang istri dan satu persatu istrinya tersebut dilukis pada langit-langit serta dinding gua tetapi lukisan wanita yang masih tersisa hanya sekitar 20-an lukisan.

sigiriya rock

Jalan vertikal dan melingkar menambah horor perjalanan ini

sigiriya rock

Lukisan di langit-langit gua

sigiriya rock

Gua yang sempit hanya di pasang besi ke punggung bukit

Begitu turun dari Gua tersebut kami berjalan melewati dinding kaca (Mirror Wall). Dinding atau tembok tersebut terbuat dari porselen yang sangat mengkilap sehingga menyerupai kaca dan di tembok tersebut banyak terdapat tulisan-tulisan yang berisi puisi yang ditulis oleh raja sendiri. Tembok tersebut diberi pembatas sehingga pengunjung tidak diperkenankan untuk mendekat apalagi menyentuhnya. Tetapi sayang sekarang mirror wall ini sudah tidak bisa memantulkan bayangan kita lagi karena termakan usia.

sigiriya rock

Mirror Wall

Setelah melanjutkan perjalanan naik dan terus naik kami tiba di Lion Gate yang merupakan bagian dari Lion RockLion Rock yang sekarang masih tersisa hanya berupa Tapak Kaki  Singa sedangkan bagian yang lain telah hancur. Kembali kami harus menaiki anak tangga yang terbuat dari besi yang berdiri hingga ke puncak. Belum lagi ketika angin bertiup kencang semua tangga-tangga tersebut goyang ditambah lagi banyaknya pengunjung yang naik pada saat itu membuat perasaan semakin deg..deg an, saya berhenti cukup lama sambil menunggu semua pengunjung naik atau turun duluan dan si Ahseng telah duluan naik meninggalkan saya di pertengahan tangga. Akhirnya setelah berjuang mendaki selama 1.5 jam tiba di puncak Sigiriya Rock.

sigiriya rock

Lion Gate

sigiriya rock

Tangga Lion Gate

sigiriya rock

Pemandangan di pertengahan tangga menuju ke puncak

Sesampainya diatas, kami disambut oleh sekawanan monyet liar penghuni sigiriya rock. Timbul rasa iseng kami untuk sekedar bermain-main sambil menggoda si monyet yang sedang menggendong anaknya, ternyata si monyet marah karena merasa di ganggu, belum lagi tiba2 botol air minum yang kami bawa direbut paksa oleh si monyet, kami pikir daripada menjadi korban kebrutalan si monyet dengan berat hati kami melepaskan botol air minum untuk dibawa si monyet.

sigiriya rock

Monyet

Dari puncak bukit ini kita juga dapat memandang sisa-sisa hall (ruangan) atau tempat raja dan permaisuri serta selirnya yang berjumlah 500 orang mengadakan pesta dan diakhiri dengan mandi bersama di sebuah kolam yang besar yang masih tersisa hingga sekarang.

sigiriya rock

Sisa hall/ ruangan

sigiriya rock

Kolam tempat mandi bersama

Setelah puas menikmati puncak bukit Sigiriya kami turun melalui jalur berbeda dengan jalur pada saat mendaki. Waktu yang ditempuh untuk turun lebih cepat pada saat naik yaitu sekitar 30 menit. Jadi untuk mendaki Sigiriya Rock ini serta turun kembali dibutuhkan waktu sekitar 2 jam.

sigiriya rock

turun

Perjalanan panjang dan melelahkan telah terbayarkan dengan pemandangan dan perjalanan menuju ke atas puncak sigiriya rock untuk melihat Sigiriya Rock, Kota diatas Batu dan juga melihat sisa-sisa kejayaan masa lalu, kami melangkahkan kaki meninggalkan kompleks sigiriya rock untuk kembali ke penginapan, dalam perjalanan balik kami menemukan sebuah pondok/ cafe yang cukup eye catching, karena perut dalam keadaan lapar berat kami mencoba untuk makan disana.

Makan siang di sigiriya menjadi satu tragedi makan siang termahal selama di Sri Lanka, bayangkan saja untuk makan berdua dengan nasi dan devilled chicken (semacam ayam penyet) kami harus merogoh kocek sebesar 1250 Rupee. Dengan berat hati kami harus merogoh kocek makin dalam sedangkan persediaan uang sudah menipis karena si Ahseng membeli Batu Safire di Kandy dan kami belum sempat ke ATM untuk tarik uang.

Sesampainya di penginapan kami ditawari makan malam dengan menu khas Sri Lanka oleh pemilik penginapan dengan harga 600 Rupee per orang, karena tidak mau repot akhirnya kami menerima tawaran untuk makan di sana. Ternyata makan malam yang disajikan melebihi ekspetasi kami, kami disuguhkan nasi beras samba dengan fish curry, sayuran, kopas (opak khas Sri Lanka) dan Telur Dadar.

Perjalanan panjang dari Kandy hingga berakhir di Sigiriya menjadi penutup akhir tahun kami, kami melewati malam pergantian tahun dalam suasana yang damai ditemani oleh pemilik penginapan tanpa perayaan hura-hura, dan petasan, hanya malam yang gelap serta orang-orang yang ramah menjadi teman penutup serta pembuka tahun kami.

Perjalanan selanjutnya akan kami lanjutkan ke Gua Dambulla. Perjalanan kali ini telah memberikan sebuah pengalaman yang tak terlupakan, selain berjalan tanpa jadwal yang fix, kami juga mencoba berlaku layaknya orang lokal, bus umum menjadi teman kami melintasi kota demi kota, berdiri bergantungan di gerbong kereta api serta berjejer berdesak-desakan didalamnya menjadi kegiatan kami selama 10 hari di sana.

 

Sigiriya, 31 Desember 2014

4 Comments

Leave a Reply